Salah satu tantangan saat ini dalam pengembangan produksi SSDN, yaitu produktivitas susu segar dari sapi perah rakyat hanya 8-12 liter per ekor per hari. Sementara itu, secara best practice-nya, yang ideal bisa mencapai 30 liter per ekor per hari.

Industri pengolahan susu masih memiliki prospek bisnis yang cukup cerah ke depannya, seiring dengan potensi meningkatnya konsumsi produk susu di tanah air.

Jakarta,Industripedia Online -- Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian fokus terhadap kebijakan dan program strategis dalam pengembangan industri pengolahan susu agar bisa lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

“Beberapa potensi lainnya, di antaranya adalah meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat dan bertumbuhnya kelas menengah, bertransformasinya gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat, dan juga meningkatnya permintaan produk bernutrisi tinggi selama pandemi Covid-19,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika di Jakarta, Senin (6/12).

Plt. Dirjen Industri Agro menegaskan, pihaknya sedang berupaya keras memacu produktivitas susu segar dalam negeri (SSDN) guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu. Hal ini sekaligus untuk mengurangi impor susu segar. “Saat ini, pasokan susu segar dari dalam negeri mencukupi kebutuhan industri sekitar 22%. Jadi, kami berupaya mengakselerasi kebijakan substitusi impor sebesar 35% tahun 2022,” ungkapnya.

Putu menyebutkan, salah satu tantangan saat ini dalam pengembangan produksi SSDN, yaitu produktivitas susu segar dari sapi perah rakyat hanya 8-12 liter per ekor per hari. Sementara itu, secara best practice-nya, yang ideal bisa mencapai 30 liter per ekor per hari.

“Kalau kita bisa meningkatkan produksi susu segar ini, tentunya akan meningkatkan juga pendapatan para peternak sapi lokal,” tuturnya. Guna mengatasi tantangan untuk memacu produksi SSDN, menurut Putu, salah satu kuncinya adalah penyediaan pakan hijauan yang berkualitas, di samping pemeliharaan sapi perah yang baik..

“Setelah kami belajar dari para praktisi dan akademisi, pakan hijauan menjadi salah satu faktor penting dalam menggenjot produksi susu segar dari sapi perah,” imbuhnya. Oleh sebab itu, Kemenperin mendorong industri pengolahan susu dapat ikut berkontribusi membudidayakan pakan hijauan, dan Kemenperin juga memacu investasi industri pengolahan pakan hijauan guna menumbuhkan sektor tersebut.

“Artinya, ada upaya penciptaan wirausaha dan peluang bisnis baru. Kalau kita bisa menghasilkan pakan hijauan yang berkualitas dan kompetitif, akan mendongkrak produktivitas industri pengolahan susu di tanah air. Apalagi, investasi di sektor industri pengolahan susu terus tumbuh,” papar Putu.

Oleh karenanya, Kemenperin akan mengembangkan pengolahan pakan hijauan, khususnya industri yang terintegrasi dengan bahan baku pakannya. Upaya ini diyakini dapat memberikan efek ekonomi yang luas, dari peternak sapi perah lokal, koperasi, hingga industri.

“Untuk mencapai sasaran tersebut, perlu dukungan dari seluruh pemangku kepentingan terkait. Dalam hal ini, Kemenperin sudah punya MoU dengan Kementerian Pertanian, yang bisa ditindaklanjuti kerja samanya,” tegas Putu.

Dosen Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Marjuki menyampaikan bahwa kendala utama dalam peternakan sapi perah adalah bibit sapi perah dan pakannya. “Untuk ketersediaan bibit unggul saat ini sudah mulai baik, mulai dari sapi potong hingga sapi perah,” ujarnya.

Marjuki sependapat, ketersediaan pakan hijauan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produksi SSDN. “Pakan itu terdiri dari dua, yaitu konsentrat dan hijauan. Untuk konsentrat, menurut kami, saat ini lebih mudah didapatkan karena sumber bahan bakunya bisa dari mana saja,” terangnya.

Oleh sebab itu, solusi pakan menjadi hal yang mendesak, khususnya untuk jenis ruminansia. “Karena di dalam negeri belum banyak yang membudidayakan pakan hijauan. Walaupun dari petani kita sudah ada yang mengembangkan, tetapi dari kuantitas dan kualitasnya masih belum memenuhi,” tandasnya.

Menurut Marjuki, pengembangan industri pakan hijauan menjadi program strategis bagi Kemenperin karena dinilai dapat mendukung produktivitas industri pengolahan susu. “Jadi, sangat penting untuk menumbuhkan industri pengolahan pakan hijauan ini. Apalagi, kita punya sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakannya,” ungkapnya.

Perkuat kemitraan

Sementara itu, Kemenperin memberikan apresiasi kepada para pelaku industri pengolahan susu di tanah air yang berkomitmen untuk memperkuat kemitraan dengan koperasi dan peternak sapi perah lokal. Hal ini untuk menjaga pasokan bahan baku yang terintegrasi sehingga bisa meningktakan produktivitas dan kualitas SSDN.

“Misalnya, kami mengapresiasi komitmen dan upaya Nestlé Indonesia untuk terus mengembangkan dan memperkuat kemitraan dengan koperasi dan peternak sapi perah di Jawa Timur yang sudah dijalin selama bertahun-tahun,” papar Plt. Dirjen Industri Agro dalam acara Penghargaan Mitra Peternak Sapi Perah di Jawa Timur oleh PT Nestlé Indonesia di Malang, beberapa waktu lalu.

Berbagai program dan pola kemitraan yang telah dilakukan Nestlé Indonesia, antara lain rearing anakan sapi perah, pendampingan peternak, subsidi pakan, modernisasi dan standardisasi Tempat Penampungan Susu (TPS) serta pembinaan Good Dairy Farming Practices (GDFP). Setiap hari, PT Nestlé Indonesia membeli lebih dari 750.000 liter susu segar dari 27.000 peternak sapi perah yang tergabung di 40 koperasi dan kelompok peternak di 16 kabupaten di Jawa Timur.

“Diharapkan, kontribusi berkelanjutan Nestlé Indonesia terhadap sektor peternakan sapi perah rakyat dapat membantu mengatasi berbagai kendala persusuan di sektor hulu, sehingga dapat mendorong kuantitas dan kualitas susu segar di dalam negeri,” papar Putu.

Selain itu, kemitraan PT Nestlé yang semakin baik diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak sapi perah, sehingga semakin termotivasi untuk meningkatkan produksi susu segar dan jumlah sapi perah yang dimilikinya.

“Kami mengharapkan akan ada lebih banyak industri pengolahan susu lain yang mengikuti jejak PT Nestlé Indonesia untuk terus mengembangkan dan meningkatkan kemitraan dengan koperasi susu dan peternak sapi perah di Indonesia,” imbuhnya.

Guna mengatasi berbagai persoalan pengembangan SSDN, menurut Putu, diperlukan dukungan fasilitas dan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada koperasi susu dan peternak sapi perah di sektor hulu. Sebagai contoh, Kemenperin telah memberikan bantuan cooling unit kepada koperasi susu sejak tahun 2007.

“Pada tahun 2021, kami telah membantu salah satu koperasi susu untuk membangun Milk Collection Point (MCP). Dan, pada tahun 2022 nanti, selain membangun MCP selanjutnya, Kemenperin juga akan membantu program digitalisasi tempat penampungan susu sebagai persiapan diterapkannya Neraca Komoditas,” ungkapnya.

Presiden Direktur Nestlé Indonesia Ganesan Ampalavanar mengemukakan, selama 50 tahun beroperasi, perusahaan berpegang teguh pada komitmen kami untuk berinvestasi di Indonesia, dengan fokus untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja, menggunakan sebanyak mungkin bahan baku setempat, termasuk susu segar, dan menghasilkan produk makanan dan minuman berkualitas dan bergizi yang aman dan lezat bagi konsumen, serta berkontribusi pada pembangunan ekonomi Indonesia.

“Setiap tahun, Nestlé Indonesia membayar sekitar Rp1,6 triliun untuk pembelian susu segar kepada para peternak sapi perah di pedesaan, yang mendukung pembangunan ekonomi pedesaan dan penghidupan para peternak sapi perah,” ujarnya. Kemitraan ini merupakan wujud nyata keyakinan bagi perusahaan, bahwa untuk mencapai sukses jangka panjang, masyarakat sekitar perusahaan juga harus sejahtera.

Di lokasi yang berbeda, PT Indolakto juga melakukan program strategis pemberdayaan mitra peternak sapi perah lokal.Perusahaan ini turut berperan aktif dalam peningkatan SDM peternak dan koperasi, peningkatan populasi sapi perah, sarana dan prasarana, dan manajemen pakan yang berkelanjutan.

“Program prioritas yang kami lakukan, antara lain Good Farming Practices dan penanganan susu segar yang baik,peningkatan kepemilikan sapi di peternak, sertafeed sustainability,” kata Anang Suprianto selaku Factory Manager PT Indolakto Purwosari.

Menurutnya, PT Indolakto terus melakukan inovasi berbagai produknya untuk memenuhi kebutuhan dan selera konsumennya. Berbagai upaya lain juga dilakukan, seperti pemenuhan standar nasional dan internasional agar seluruh produknya dapat diterima di pasar domestik dan ekspor.

“Kami telah menerapkan teknologi industri 4.0 dalam proses produksi untuk meningkatkan efisiensi. Bahkan, kami berupaya juga menerapkan digitalisasi dalam program kemitraan kami dengan para peternak sapi dan koperasi,” terangnya.

Selain itu, guna memenuhi kebutuhan pakan hijauan bagi para peternak sapi mitranya, PT Indolakto Purwosari sedang mengembangkan budidaya rumput Pakchong. Jenis rumput persilangan King Grass dan Perli Millet tersebut dinilai memiliki keunggulan, seperti lebih tinggi nutrisnya dibanding rumput gajah dan rumput odot. Pengembangan rumput Pakchong ini dilakukan bersama mitra koperasinya.#

YOUR REACTION?



Komentar




Berita Terkait