Peningkatan investasi di sektor industri memberikan kontribusi signifikan pada perekonomian. Sepanjang 2022, realisasi investasi ini mencapai Rp1.207 Triliun. Sebanyak 54,2% dari realisasi investasi tersebut merupakan penanaman modal asing atau PMA

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memberikan dukungan kepada industri elektronika untuk meningkatkan investasinya di Indonesia. 

Jakarta,Industripedia Online -- Upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan substitusi impor sekaligus mendorong kegiatan ekspor industri elektronika yang terus berinovasi dan menambah lini produk sehingga mampu bersaing di level internasional.

Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PT PMI) yang telah mampu menembus pasar ekspor serta menambah destinasi ekspor ke pasar Vietnam. “Kami menyampaikan apresiasi kepada PT Panasonic Manufacturing Indonesia yang telah mendukung upaya pemerintah dalam peningkatan aktivitas ekspor produk industri elektronika dengan terus berinovasi dan menambah lini produksi di level internasional,” ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Dirjen ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier saat mewakili Menteri Perindustrian pada ekspor perdana AC produksi PT Panasonic Manufacturing Indonesia ke Vietnam dan Peresmian High Tech Mold & Dies Center di Jakarta, Kamis (16/3).

Peningkatan investasi di sektor industri memberikan kontribusi signifikan pada perekonomian. Sepanjang 2022, realisasi investasi ini mencapai Rp1.207 Triliun. Sebanyak 54,2% dari realisasi investasi tersebut merupakan penanaman modal asing atau PMA. Data ini menunjukkan kepercayaan investor dalam dan luar negeri yang semakin meningkat terhadap kebijakan pemerintah. Penambahan investasi tersebut mampu mendorong penyerapan sekitar 1,3 juta tenaga kerja. 

Taufiek menyampaikan, Kemenperin juga memberikan apresiasi kepada PT PMI atas dukungannya terhadap program substitusi impor. Ia kemudian berpesan kepada PT PMI agar dapat memproduksi komponen AC yang produsennya masih belum ada di Indonesia, serta meningkatkan kapasitas produksi komponen tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga tidak terlalu bergantung dengan komponen impor.

Sebagai bentuk substitusi impor, 40 produk AC PT PMI telah mencatatkan tujuh kategori Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 40,49%, ditambah Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) mencapai nilai lebih dari 50%. “Kemenperin mengapresiasi peran serta PT PMI dalam meningkatkan daya saing dan produktivitas industri nasional sesuai program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN),” ujar Dirjen ILMATE Kemenperin. 

PT PMI memperluas pasar luar negerinya dengan memulai ekspor perdana AC ke Vietnam. Produk AC tersebut dihasilkan oleh unit bisnis AC PT PMI yang mulai beroperasi sejak tahun 1973. “Unit AC kami merupakan manufaktur AC terlengkap di Indonesia dengan nilai TKDN lebih dari 40% dan telah menggunakan refrigerant ramah lingkungan R32, serta membawa masuk teknologi termutakhir Panasonic “nanoe” yang sangat bermanfaat untuk kesehatan,” jelas Presiden Heating & Ventilation AC Company Panasonic Corporation, Masaharu Michiura.

Semula Panasonic Corporation memproduksi AC di Malaysia untuk diimpor ke Vietnam. Pemindahan produksinya ke Indonesia bertujuan memperluas bisnis AC di Indonesia, dan selanjutnya secara aktif akan berupaya untuk terus meningkatkannya. Unit bisnis AC tersebut merupakan satu-satunya pabrik AC di Indonesia dengan kemampuan memproduksi secara penuh (full manufacture) dari bahan baku hingga produk jadi. Jenis produk AC yang dihasilkan meliputi AC Split tipe Inverter maupun Non-Inverter dengan kapasitas ½ PK hingga 2 ½ PK dengan kapasitas produksi total sebesar 600 ribu set per tahun.

Tingkatkan Kompetensi SDM di bidang Mold & Dies

Dalam kesempatan tersebut juga diresmikan fasilitas Hi-Tech Mold & Dies Center yang pengembangannya mulai diinisiasi sejak 2016 dan mulai diproses sejak awal tahun 2020. Proyek tersebut merupakan bentuk kerja sama internasional yang dibiayai hibah dari Pemerintah Jepang melalui Kemenperin untuk meningkatkan SDM industri di bidang mold & dies menuju pada level hi-tech.

Sekretaris Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (Sesditjen KPAII) Kemenperin Jonni Afrizon yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan, hibah tersebut telah diwujudkan dalam bentuk pengadaan peralatan/mesin, piranti lunak, serta ruangan dan fasilitas pendukungnya. Berbagai fasilitas tersebut akan digunakan untuk melakukan pelatihan guna meningkatkan kompetensi serta kuantitas SDM industri di bidang mold & dies. 

Fasilitas tersebut ditargetkan dapat melatih dan memberikan sertifikat kompetensi pada level medium dan hi-tech kepada 2.000 tenaga kerja industri selama tiga tahun ke depan. Program pelatihannya merupakan kerja sama antara Kemenperin, Indonesia Mold & Die Industry Association (IMDIA), Yayasan Matsushita Gobel, serta dukungan tenaga ahli dari Jepang.

“Dengan majunya teknologi dan kompetensi SDM yang dicetak melalui Hi-Tech Mold & Dies Center ini, diharapkan industri mold & dies dapat lebih banyak memproduksi barangnya di dalam negeri, sehingga turut mendukung program substitusi impor, bahkan mampu bersaing dan semakin terlibat pada rantai suplai global,” pungkas Sesditjen KPAII Kemenperin. #

YOUR REACTION?



Komentar




Berita Terkait