Setiap penugasan bukan hanya melaksanakan perintahatasan.Tetapi juga akan ada sesuatu hal baru yang dipelajari. Demikian ujar Andi Rizaldi ,Staf Ahli Menteri Bidang Iklim Usaha dan Investasi Kementerian Perindustrian.
Memulai karirnya di Kementerian Perindustrian sejak 2005,Anda sudah ditugaskan di beberapa divisi bahkan sempat menjadi atase perindustrian di Tokyo,Jepang. Bagaimana pedapat Andi Rizaldi tentang dinamika yang ada di kemenperin? Bagaimana pula caranya menjaga kualitas kerja agar selalu memberikan yang terbaik bagi negara? Berikut petikan wawancaranya :
Pak Andi dikenal sebagai salah satu pegawai Kementerian Perindustrian yang berprestasi dan memiliki pengalaman cukup luas. Sebelum menjadi Staf Ahli Menteri PerindustrianBidang Iklim Usaha dan Investasi, Bapak pernah menjabat sebagai Kepala BiroPerencanaan, Kepala Biro Humas, Atase Perindustrian di Tokyo, dan juga punya latarbelakang cukup lama di Direktorat Industri Logam. Boleh diceritakan sedikitpengalaman Bapak di berbagai posisi tersebut, dan bagaimana upaya yang Bapaklakukan untuk menjaga kualitas kinerja, baik pribadi maupun unit kerja Bapakpada waktu itu?
Jawaban : Setiap pegawai, termasuk saya, sampaimenteri-presiden sudah ada tugas dan tangung jawab masing-masing. Nah kitasebagai abdi negara /ASN melaksanakan tugas negara dan jangan lupa kita diberikompensasi oleh negara. Kompensasi itu berasal dari istilahnya dari rakyatjuga. Kalau ingat itu, dari level staff bahkan level atasnya seharusnya punya tanggung jawab untuk melaksanakan kewjiban sesuai tugas yang diberikan negara.
Kalau kita bekerja di sektor swasta, tidak ada yang mau bayar kita tanpa ada kontribusi kita ke perusahaan. Itu yang harus ditanamkanke ASN juga. Apalagi kita digaji rakyat melalui pajak dan lainnya. Seharusnyapunya beban moral yang lebih besar dibandingkan mereka yang bekerja di swasta.Itu dulu mungkin yang harus ditanamkan di masing-masing Asn termasuk ASN Kemenperin.
Kedua, ingat setiap penugasan itu selain melaksanakan tugas kewajiban, pekerjaan dari atasan. Kita juga akan belajar sesuatu yang baru.Contoh saya. Dulu saya hanya tahu pekerjaan di direktorat logam, itu terkaitdengn iklim usaha, SNI, persaingan tapi tak terlepas dengan logam, sesuai dengan background saya di tekhnik metalurgi UI.
Saat saya ditugaskan di tempat lain misal jadi atase perindustrian , humas mengurusi hal yang lebih besar.
Balik lagi niat kita ketika bekerja di Kemenprin ini apa. Kalau niatnya hanya materi mungkin ada tempat yang lebih baik mungkin di Dirjenpajak, Pemda DKI atau tempat lain yang sudah terkenal bagus secara materi. Tapikan kita sudah mendaftarkan jadi ASN di Kemenperin dan negara akan memberikankompensasi. Jangan melihat dari sisimateri tapi juga non materi.
Dan buat saya baik kompensasi materi materi dan non materi itu sudah luar biasa. Misal saya bisa bekerjasama dengan teman-teman di humas,itu hal yang luar biasa. Sebelumnya saya belum pernah ada di biro perencanaan,itu juga suatu hal yang luar biasa.
Spesifik terkaitdengan pengalaman Bapak selama menjadi Atase Perindustrian, apakah bolehdiceritakan sedikit lebih rinci mengenai pengalaman Bapak ketika melakukanmarket/industrial intelligence serta promosi investasi sektor industri?
Ini pengalaman pertama saya keluar dari zona nyaman. Dalam hal ini, pada saat sudah jadi pemimpin, kita jangan malu buat belajar dengansiapapun termasuk saya. Pada saat saya masuk ke humas, saya belajar tentang kehumasan. Termasuk ketika saya ketika penugasan di atase jepang.
12 tahun sejak saya masuk Kemenperin sejak 2005, saya takpernah keluar dari Direktorat logam. Jadi atase saat itu kesempatan saya buat mendapatkan wawasan, pengalaman yang lain, selain yang saya dapatkan di Direktorat logam. Fungsi atase perindustriankhususnya terkait dengan industrial inteligence. Bentuk bisa macam-macam. Misalkita harus membuat program luar negeri maupun kementerian asal.
Perlu saya gambarkan kementerian perindustrian kan punya satuan kerja (satker) ya. Satker diLN. Instansi lain juga punya satker di LN. Satker di LN, Ada yag menyebutkan sebagaipromosi industri Indonesia di LN. Ada promosi dagang juga dari kementerianlain. Yang membedakan dengan atase perindustrian ingat bahwa tugas ataseperindustrian adalah menyelenggarakan pemerintahan di bidang perindustrian dan ini kan mencakup banyak hal tentang pelaksanaan kebijakan, perumusan kebijakan dan lain sebagainya.
Dan itu hubungannya salah satunya dengan pertumbuhan ekonomipada umumnya di support oleh sektor industri kita. Sekarang kita juga dilihat dari sektor industri masih yang tertinggi namun secara nasional, pertumbuhannasional masih belum maksimal.
Tapi kita belajar dari Jepang, di Jepang tidak akanmemutuskan suatu proyek dengan tiba-tiba tapi dengan perencanaan yang matang kemungkinan akan dilakukan dengan mobil listrik dll. Tinggal kebijakan kita mengakomodasi kepentingan Jepang apa yang harus disiapkan.
Dinamika situasiterkini yang terjadi sangat cepat menunjukkan kepada kita berbagai tantanganterhadap sektor industri yang membutuhkan penanganan berupa kebijakan yanglebih responsif dan adaptif. Menurut Bapak, apa yang perlu dilakukan oleh Kementerian Perindustrian agar memiliki SDM Aparatur yang cukup siap untukmenghadapi tren semacam itu?
Pada saat penerimaan ASN di Kemenperin mereka harus melewatiproses assesment, mungkin yang dilihat tidak hanya kemampuan IQ tapi juga EQ.Ini persiapan agar ASN bisa mengendalikan, mengontrol diri di luar IQ.
Kenapa harus dikontrol karena tidak selamanya keinginan yang dari industri dapat diakomodasi oleh kementerian atau bahkan kedutaan. Jadimisal kita melakukan promosi di bagian industri kita harus kerjasama denganbagian protokol, kita bekerja sama dengan fungsi ekonomi dari kemenlu, kitabekerjasama dengan atase perdagangan.
Dengan EQ yang baik diharapkan dia mampu menjalin kerjasama dengan ASN lain dengan bidang yangberbeda dan kementerian yang berbeda.
Menurut Bapak apasaja kualifikasi yang dibutuhkan oleh SDM Aparatur, khususnya di lingkunganKementerian Perindustrian, agar kebijakan-kebijakan yang disusun bisa memilikikualitas yang baik?
Ada unit kerja yang menangani SDM aparatur. Kan ada pusat pendidikan, pelatihan, pendidikan aparatur. Ada unsur EQ juga didalamnya.
Kementerian Perindustrian termasuk yang menerapkan kebijakan fungsionalisasi jabatan, dimana jenjang jabatan Eselon 3 dan Eselon 4 disetarakan menjadi jabatanfungsional tertentu. Menurut Bapak, apakah masih terdapat hal yang perlu ditindaklanjuti oleh Kementerian Perindustrian agar kebijakan penyetaraan inidapat memberikan dampak terhadap kemajuan sektor industri? Lalu kira-kiraseperti apa bentuk penugasan yang tepat sebagai bentuk pembinaan terhadapindustri?
Ini kan ada hubungan dengan no 6 karena terkait fungsionaliasasi jabatan. Akhir 2020 ada pelatikanjabatan fungsional darieselon 3 dan 4 kalau tidak salah. Nah ini artinya sudah kita lewati. Jangan lihat lagi ke belakang kecuali sebagai monitoring.
Sekarang kita berpikir tak ada lagi jabatan eselon 3 dan 4 selain mungkin yang ada dalam aturan kemenperin no 8/2023. Eselon 3 ada 2 hanya disetiap direktorat jenderal. Hanya ada 2 yaitu kepala bagian program dan kerjasama dan kepala bagian umum. Selain itu masing2 eselon 2, hanya ada 1 eselon 4 sebagai kasubag tata usaha.
Nah ASN yang lain tidak lagi menjabat sebagai pejabat struktural eselon 3 dan 4 tapi menjabat sebagai pejabat jabatan fungsional.
Ini menurut saya karena sudah melewati tahap itu sekarang bagaimana caranya. Dari sisi pekerjaan kan kita tak bisa membatasi pekerjaankan. Jadi misalnya ada industri dia memilih pekerjaan yang terkait pembina industri.tak bisa seperti apapun.kalau industri punya kesulitan kementerian perindustrian harus bisa membantu.katakanlah kesulitan thdp persaingan produk impor yang tidak sni. Itu harus kita jawab. Dari pihak industri mereka tak akan melihat itu diselesaikan.
Magang tetap diperlukan dan berdampak pada masa magangnya.Bagaimanapun kita masuk dalam perusahaan, perusahaan dah punya sistem.bagaimanapun ketika masuk sistem, sistem harus ada peyesuaikan. Konsekuensinya pekerjaan jadi ebrtmbah.
Tadinya nggak ngurusin magang jadi bertambah. Dan harus dikompensasi. Harus ada timbal balik. Skrg bukar era harus saling memberikanbenefit.paling tidak ada diskusi dan komunikasi yang lebih baik. Misalnyadengan magang jadi terbuka jalur komunikasi.
Menurut Bapak sejauhapa peran budaya kerja dalam mendorong kinerja organisasi? Lalu pendekatan yangdiambil dalam membangun budaya kerja apakah sebaiknya berupa bottom up, yaknidimulai dari pembinaan terhadap individu-individu unggul yang kemudiandiharapkan menularkan etos dan kinerjanya kepada individu lain, ataukah lebihberupa top down, yakni dimulai dari tata aturan, SOP, ataupun skemareward/punishment yang sejak awal berdampak pada seluruh pegawai secarakolektif?
pengalaman saya sendiri, atasan gak mungkin mengatakan inites buat kamu.atasan akan memberikan pekerjaan sesuai fungsi dan unit kerjatersebut. Disitulah justru atasan bisa melihat kreativitas kita. Tugas atasankompleks dan tugasnya yang dimiliki atasan. tanpa SOP bahkan ada fleksibilitasdan kesempatan berinovasi.
Atasan bisa mengolah dokumen yang ada dan dikontak kalau perlu didatangi. Sehinga paa saat merekomendasikan ,kita ada argumen.
Semua butuh kreativitas. Inovasi harus ditampilkan oleh ASN selama baik.kalau dengan SOP yang ketat kreativitas hilang.segala yangdilakukan hrs ada dasar hukumnya dan selama ada koridornya bisa dilakukan inovasi. Jadi menurut saya bedanya dengan bekerja di sektor swasta, sektor swasta regulasinya nggak terlalu ketat.tapi kita nggak bisa. Semua harus masuk mekanisme APBN
Berdasarkanpengalaman Bapak, apakah sudah tersedia institusi/organisasi yang dapatdijadikan benchmark terkait penerapan budaya kerja yang relevan untuk ditirudalam konteks Pemerintahan?
Ini kan kita bisa melihat sebagian yang dilakukan instansilain. Misal bapenas punya sisten kereja wrk from anywhere. Ruang kerja gakdisekat2, mungkin yang dilakukan Googledan semua sudah ada di dalam komputr,data base jadi orangnya moving. Balik lagi ke nature pekerjaan. Bapenas mungkintak ada permintaan reguler.mungkin dia lebih banyak buat kebijakan. Menurutsaya kita gak bisa meniru 100 persen dari Bapenas.
Kita nggak harus meniru tp bag tertentu 100 persen sesuainature pekerjaan.Kedutaan juga.saya hanya mengalami di tokyo.cara kerjanya juga flesibel . Bapenas mungkin jga danlebih berorientasi ke output. Kalo di kitaada yag pekerjaan reguler ,harus langsung berhubungan dengan publik.
Terkait dengan budayakerja, bagaimana pandangan Bapak mengenai sistem WFA (work from anywhere)apabila diterapkan dalam kontekslingkungan kerja di Kementerian Perindustrian?
Harus diliht dari nature pekerjaan.yang berhubungan dengan publik agak sulit. Kedua perlu juga dijaga jangan sampai terjadi kecemburuan.Perlu keterbukaan bisa jadi kan saya baru dipindah ke suau tempat baru menyadari nature nya seperti ini. #