- IFG bersama BP BUMN menggelar FGD untuk memperkuat tata kelola program TJSL BUMN.
- Pendekatan Three Lines Model digunakan untuk meningkatkan Governance, Risk, and Compliance (GRC).
- Program TJSL diarahkan menjadi strategic value driver, bukan sekadar kegiatan sosial perusahaan.
- Kolaborasi regulator dan BUMN dinilai penting untuk memastikan program TJSL berdampak dan terukur.
- Forum juga menjadi ruang berbagi best practices tata kelola TJSL di lingkungan BUMN.
IndustriPedia Online - Indonesia Financial Group (IFG) bersama Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) memperkuat tata kelola program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui pendekatan Three Lines Model dalam forum diskusi strategis yang digelar di Financial Hall, Jakarta, Rabu (25/2).
Forum bertajuk FGD Series #3: Peningkatan Governance, Risk, and Compliance (GRC) dalam Program TJSL BUMN – Three Lines Model dalam Manajemen TJSL BUMN ini menjadi wadah kolaborasi antara regulator, praktisi tata kelola, serta perwakilan entitas di lingkungan IFG Group.
Kegiatan tersebut menghadirkan Direktur Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan BP BUMN, Edi Eko Cahyono, bersama sejumlah narasumber dari regulator, praktisi GRC, dan perwakilan IFG.
TJSL Didorong Jadi Program yang Terukur dan Akuntabel
Sebagai holding BUMN di sektor asuransi, penjaminan, dan investasi, IFG menilai penguatan tata kelola dalam program TJSL merupakan langkah penting agar kegiatan sosial perusahaan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Pendekatan Governance, Risk, and Compliance (GRC) diharapkan mampu memastikan setiap program TJSL tidak hanya berjalan sebagai kegiatan sosial, tetapi juga memiliki ukuran kinerja yang jelas, akuntabel, serta selaras dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji, mengatakan bahwa penerapan Three Lines Model dalam pengelolaan TJSL merupakan bagian dari komitmen IFG dalam memperkuat tata kelola yang lebih terintegrasi.
Menurutnya, program TJSL perlu dipandang sebagai bagian strategis dari pengelolaan perusahaan.
“Melalui forum ini, IFG bersama BP BUMN mendorong penguatan peran dan fungsi pengendalian di setiap lini dalam pengelolaan TJSL. Program TJSL bukan sekadar aktivitas sosial ataupun objek audit, tetapi menjadi strategic value driver yang harus dikelola secara profesional, terukur, dan akuntabel,” ujar Denny.
Ia juga menekankan bahwa pengelolaan TJSL yang baik dapat membantu perusahaan dalam memitigasi risiko sekaligus membangun kepercayaan dengan para pemangku kepentingan secara berkelanjutan.
Sinergi Regulator dan BUMN Jadi Kunci
Dalam forum tersebut juga ditegaskan bahwa sinergi antara regulator dan BUMN menjadi faktor penting dalam memastikan implementasi program TJSL berjalan efektif.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan program sosial perusahaan yang tidak hanya berdampak langsung kepada masyarakat, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dengan adanya penyelarasan kebijakan serta praktik tata kelola yang baik, program TJSL BUMN diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.
Memahami Three Lines Model dalam Tata Kelola
Pendekatan Three Lines Model yang digunakan dalam pengelolaan TJSL menekankan pembagian peran yang jelas dalam sistem tata kelola dan manajemen risiko.
Model ini terdiri dari tiga lini utama, yaitu:
- Lini pertama sebagai pemilik risiko atau pihak yang menjalankan operasional program.
- Lini kedua yang berperan dalam fungsi manajemen risiko dan kepatuhan.
- Lini ketiga yaitu audit internal yang memastikan pengawasan berjalan secara independen.
Melalui koordinasi dan komunikasi yang baik di antara ketiga lini tersebut, potensi celah pengendalian dapat diminimalkan sehingga tata kelola organisasi berjalan lebih terintegrasi.
Pendekatan ini juga mencegah terjadinya silo antar fungsi dalam organisasi, sehingga seluruh elemen perusahaan dapat bergerak selaras dengan tujuan strategis perusahaan.
Forum Berbagi Praktik Terbaik
Selain sebagai ruang diskusi kebijakan, forum ini juga menjadi tempat berbagi best practices terkait penerapan GRC dalam program TJSL di lingkungan BUMN.
Regulator, holding, serta entitas anak perusahaan dapat menyelaraskan perspektif dan strategi agar implementasi tata kelola program sosial perusahaan berjalan lebih efektif dan berdampak luas.
Melalui penyelenggaraan FGD Series #3 ini, IFG kembali menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko dalam seluruh aspek operasional perusahaan, termasuk dalam pengelolaan program TJSL.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya IFG menjalankan peran strategisnya sebagai holding BUMN di sektor asuransi, penjaminan, dan investasi, sekaligus mendukung terciptanya program sosial yang transparan, terukur, dan berkelanjutan. ***