Refleksi HUT Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-76 (2)

Pertumbuhan ekonomi bersamaan dengan pertumbuhan industri manufakur yang sangat pesat di masa lalu kerap kali membuat kita lupa bahwa strukturindustri manufaktur Indonesia masih sangat bergantung pada sumber daya luar(impor)

Meski terbantahkan,kekhawatiran akan terjadinya deindustrialisasi di Indonesia sepatutnya dijadikan alarm bahwa banyak hal harus dibenahi agar sektor industri pengolahan mampu berkembang dan berperan secara berkelanjutan bagi perekonomian nasional.

Jakarta, Industripedia Online -- Pengalaman di masalalu memberikan pelajaran, bahwa pertumbuhanyang tinggi saja tidak membuat ekonomi menjadi kokoh, tidak menjadikan industrimanufaktur menjadi kuat. Ada unsur yang mesti menjadi pedoman dalammembangun perekonomian, terlebih khusus industri manufaktur, yaitu kemandirian.

Pertumbuhan ekonomi bersamaan dengan pertumbuhan industri manufakur yang sangat pesat di masa lalu kerap kali membuat kita lupa bahwa strukturindustri manufaktur Indonesia masih sangat bergantung pada sumber daya luar(impor). Ini tercermin dari strukturimpor Indonesia yang sejak tahun 1981 hingga kini masih sangat didominasi olehimpor bahan baku dan penolong dan barang modal.

 Perkembangan industri dan peningkatan ekspor tidak akan optimal manfaatnya jika selalu diikuti dengan meningkatnya impor. Bahkan dalam skala tertentu, peningkatanimpor barang modal serta bahan baku dan bahan penolong justru membuat rapuhketahanan industri manufaktur.

Manakala hargabarang import meningkat, atau saat pasokan tersendat atau bahkan terhentiakibat suatu peristiwa -seperti pandemi yang kita alami saat ini-industrimanufaktur menjadi limbung dan bahkan mendekati kematian.

Pandemi Covid-19membuka mata kita untuk melihat banyak hal. Antara lain masih banyak celah kosong di sisi supply chain dalamstruktur industri manufaktur Indonesia.

Sektor farmasimenjadi contoh aktual. Ketergantungan terhadap impor bahan baku termasuk jenisobat untuk terapi Covid-19 –ditambah dengan faktor panic buying olehmasyarakat- membuat obat terapi Covid-19 sempat menjadi barang langka danberharga mahal. Kita mesti bersaing dalam impor bahan baku obat dan obat jadidengan banyak negara yang sama-sama membutuhkan.

 Dengankeanekaragaman hayatidan sumber daya manusia yang dimiliki, Indonesiasemestinya bisa mengembangkan industri yang kuat di sektor farmasi dan alatkesehatan.Kita mampu untuk itu. Kita sudah mengembangkan dan memproduksibeberapa obat modern asli Indonesia (OMAI) yang telah digunakan di beberapanegara di Eropa.

Kita juga sudahmampu membuat ventilator dan generator/ konsentrator oksigen dalam negeri.Prototipenya sudah ada dan kini tengah menunggu hasil uji klinis untuk bisadiproduksi secara massal. Jika alat-alat kesehatan tersebut sudah bisadiproduksi, maka kemandirian industri alat kesehatan dan sektor kesehatan kitaakan semakin kuat.

 Untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor-sekaligus mendorong penguatan struktur industrimanufaktur-, Kemenperin telah mengeluarkan kebijakan Substitusi Impor 35% pada tahun 2022 denganprioritas pada industri-industri dengan nilai impor yang besar pada tahun 2019seperti mesin, kimia, logam, elektronika, makanan, peralatan listrik, tekstil,kendaraan bermotor, barang logam, serta karet dan bahan dari karet.

Strategi yangditempuh adalah dengan menurunkan impor guna merangsang pertumbuhan industrisubstitusi impor dalam negeri, peningkatan utilitas industri domestik, danpeningkatan investasi untuk produksi barang-barang substitusi impor.

 Strategi lainadalah optimalisasi peningkatan penggunaanproduk dalam negeri melalui penetapan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 40 persen. Penetapan TKDNdimaksudkan untuk mendorong agar semua produk yang dihasilkan industri dalamnegeri dapat diserap dalam proyek pengadaan barang/jasa di dalam negeri, baikmelalui APBN maupun anggaran BUMN/ BUMD. Kebijakan ini merupakan wujudkeberpihakan terhadap produk dalam negeri dan langkah pengawalan terhadapkeberlangsungan industri dalam negeri.

Semua negara pastimenggunakan berbagai instrumen untuk melindungi industrinya, membentengisektorproduksinya, serta menjaga tenaga kerja dan warganya.Keberpihakan dandukungan pengamanan ditujukan untuk memberikan kesempatan bagi industri dalamnegeri untuk berkembang dan meningkatkan daya saing sampai mereka mapan danmampu bertarung di persaingan global. Jika tidak, impor semakin akan merajaleladan industri dalam negeri tidak akan pernah bisa berdaulatdi wilayahnya sendiri.

Kemandirian dan kedaulatan industri dalamnegeri juga harus didukung atau ditopang dengan perubahan mindset dan perilaku.

Dari sisi pelakuusaha, mentalitas “serba instan” dan “tidak mau repot” membuat praktik impormenjadi budaya ketergantungan dalam praktik pembangunan kita. Pencerahan dandorongan perlu diberikan agar ada transformasi pelaku  usaha dari semulapedagang menjadi industrialis, dari berorientasi impor menjadi berorientasiproduksi.

Dari sisimasyarakat, dampak globalisasi dan kemajuan teknologi telah menciptakan budayakonsumtif dan membuka luas akses masyarakat terhadap produk-produk impor.Edukasi dan pemberdayaan perlu digalakkan agar tumbuh watak kewirausahaan ditengah masyarakat sehingga mereka memiliki minat untuk masuk ke sektor industripengolahan, melalui kewirausahaan baru atau industri kecil. Di samping itu,edukasi dan kampanye juga diperkuat untuk menumbuhkan kebanggaan dan kecintaanmasyarakat terhadap produk-produk dalam negeri.

Masyarakat mestidisadarkan bahwa mendahulukan penggunaan produksi dalam negeri adalah perbuatanyang terpuji dan patriotik. Dalam tujuan itu, pemerintah telah meluncurkanGerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia.

Pendalaman struktur industri manufakturIndonesia juga didorong melalui kebijakanhilirisasiberbasis sektor primer. Hilirisasi juga bermanfaat dalammeningkatkan nilai tambah terhadap perekonomian, peningkatan investasi dalamnegeri, pembukaan lapangan kerja, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhanindustri manufaktur dalam negeri.

Kita tidak bolehberpuas diri sebagai eksportir hasil bumi baik dari pertanian maupunpertambangan. Dengan sumber daya alam yang berlimpah, Indonesia memilikipotensi sangat besar untuk menjadi negara eksportir berbagai produk berbasisagro, mineral, migas, dan batubara. Di sektor industri agro, sebagai contohIndonesia berhasil melakukan hilirisasi minyak sawit (CPO).

Dalam kurun 10tahun ekspor produk turunan kelapa sawit meningkat dari 20% pada 2010 ke 80%pada tahun 2020. Sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia,Indonesia dalam empat tahun terakhir telah berhasil meningkatkan nilai eksporproduk hilir rumput laut dari USD 45,7 juta di tahun 2007 ke USD 96,2 juta ditahun 2020.

Indonesia juga dikenal sebagai pengolah kakao terbesar ketigadunia. Dengan kapasitas terpasang sekitar 800 ribu ton per tahun, ekspor produkolahan kakao menyentuh angka USD 1,12 milyar pada tahun 2020.

Hilirisasi di sektorindustri petrokimia sangat strategis karena menghasilkan bahan baku primeruntuk menopang banyak industri manufaktur penting seperti tekstil, otomotif,mesin, elektronika, dan konstruksi. Pemerintah saat ini tengah mengawalbeberapa proyek pembangunan industri petrokimia raksasa -salah satunya diBintuni, Papua- dengan total nilai investasi sebesar USD 31 miliar. 

Sementara di sektorindustri mineral logam, saat ini telah terbangun industri stainless steelterintegrasi dari hulu yang menghasilkan produk turunan nikel dengan kapasitas4 juta ton per tahun. Kapasitas produksi ditargetkan pada tahun 2022 mencapai 6juta ton per tahun. Pemerintah juga telah membangun fasilitas pengolahan bijihbauksit ke alumina dengan kapasitas produksi 3 juta ton per tahun.

Peningkatan dayasaing global industri di Indonesia merupakan agenda penting yang juga menjadiperhatian Pemerintah. Laporan Competitiveness Industrial Performance (CIP)Index Tahun 2020menunjukkan adanya perbaikan peringkatdaya saing manufaktur Indonesia yang kini di peringkat 39 dunia.Salahsatu faktor penting dalam daya saing industri manufaktur adalah ketersediaan energi. Dengan keragaman sumberenergi yang dimiliki, Indonesia mestinya tidak dihadapkan pada permasalahanenergi. Faktanya, akses industri ke energi yang masih rendah. #